Selasa, 12 Januari 2010

Catatan Hati Seorang Wanita


I


Dia tak pernah memilikinya, tapi dia begitu mencintainya. Mungkin bahkan cinta ia tak akan pernah padam untuknya. Pancaran matanya ketika ia bercerita tentangnya menunjukkan bahwa cintanya begitu dalam padanya, bahkan lebih dalam daripada cinta yang ia miliki untukku.


Terkadang aku iri dan begitu sakit saat merasakan cinta yang begitu berkobar untuknya. Tapi seketika sakit itu hilang begitu saja tatkala aku menampak pancaran kebahagiaan dari raut wajah ia ketika mengenangnya.


Satu kenangan kuat yang ia miliki adalah kencan sembunyi-sembunyi nya ke sebuah tempat yang begitu sejuk bersamanya. Dan mungkin sejak saat itu, kenangan yang ia miliki bersamanya walaupun hanya satu hari, akan ia simpan selamanya, meski ia telah memilikiku.


Aku mungkin tak akan pernah mendapatkan cinta sedalam yang ia berikan untuknya. Tapi sungguh, aku tak akan meminta dia menghentikan itu, aku begitu mencintainya, aku tak akan pernah sanggup melihat dia terluka, hanya karena aku memintanya berhenti mencintainya. Cinta yang ia miliki untuk nya sudah tergurat begitu dalam dihatinya. Maka akan ku korbankan segalanya demi kebahagiaan ia. Meski diam-diam aku seringkali merasa sakit karenanya.


Aku seringkali berpikir, betapa dia sangat beruntung karena mendapatkan cinta ia yang begitu dalam. Aku memang memilikinya, aku memang mendapatkan cinta dari ia, meski tak sebesar cinta yang ia berikanuntuknya, aku harus tetap bersyukur karena aku masih mendapatkan cintanya. Bukankah bila kita ingin dicintai, kita harus lebih banyak mencintai dari pada apa yang kita harapkan?


Biarkan tangisku menjadi doa untuk ia, menjadi kekuatan baru untukku. Biarkanlah hanya senyum ini yang selalu ia dapat dariku. Biarkan aku simpan rapat-rapat perih ini sendiri. Aku akan berusaha tak mengeluhkan ini pada ia. Dan biarkan aku tetap mencintai ia, lebih dalam, dan untuk selamanya.


II


Kini kami telah memiliki dua orang buah cinta yang masih kecil. Ia begitu mencintai mereka, begitu pun aku. Satu-satu nya hal yang selalu aku syukuri adalah ia tetap memiliki cinta untukku meski ia masih menyimpan cinta yang dalam itu untuknya hingga kini. Ia begitu setia menemani keluarga yang ia miliki, Ia begitu bertanggung jawab untuk kami, tapi kesetiaannya terhadap cintanya yang dalam pun tetap kokoh.


Aku tetap memperhatikan itu, semenjak aku sadar tentang guratan cinta yang begitu dalam yang bukan ia berikan pada ku tapi padanya. Begitu lihainya hatinya membagi-bagi itu selama ini. Cinta dalam yang ia miliki untuknya tak pernah berkurang, tak pernah tercampur oleh cinta ia pada keluarganya, tidak pula cinta ia pada sang Maha Pencipta. Aku sungguh kagum akan hatinya, tapi kadang aku merasa tak mendapat keadilan.


Namun biarkan, kini badai itu mulai mereda, tangis yang selalu kutumpahkan perlahan surut. Aku sudah mulai kuat, aku selalu berusaha bersyukur dengan apa yang kuterima. Hal yang paling aku syukuri adalah aku memiliki dua orang cinta yang begitu hebat dalam hidupku, yang ku peroleh dari cinta yang ia berikan untukku. Dan cintaku yang begitu dalam padanya akan selalu menjadi do’a dan kekuatan di hidupku.



III


Aku menjadi wanita tua bahagia sekarang. Aku tak pernah lagi memikirkan cinta dalam yang ia miliki. Cinta yang ada sekarang tak terhitung. Bagiku, walau kadar cinta yang ia berikan tetap sama. Aku tetap bahagai hidup dengan ia, sangat bahagia. Tuhan pasti telah melimpahkan begitu banyak cinta untukku. Ia bahagia dengan keluarga yang ia miliki, dan Ia juga bahagia dengan tetap menyimpan cinta yang begitu dalam untuknya. Tak pernah berhenti semenjak dulu hingga kini.




PERJALANAN BANDUNG-JOGJA

Hari itu hari selasa, dan jatuh pada tanggal 18 Maret 2008, sepulang kuliah aku langsung bergegas menuju statsiun kereta api ekonomi Kiaracondong, untuk sampai ke statsiun itu aku harus menempuh jarak dengan menaiki bus damri jurusan Tanjungsari-Kebun kelapa dengan tarif ongkos 3000 rupiah, kemudian aku harus turun di kantor bersama lalu disambung dengan angkot jurusan ruing bandung-dago, atau cicadas-cibiru, barulah aku bisa sampai ke tempat tujuan. Jam menunjukkan pukul 04.15, saat aku tiba di statsiun itu, kemudian tanpa membuang waktu aku langsung menuju loket pembelian tiket untuk membeli dua buah tiket kepergian menuju Jogja tiket itu aku beli untuk aku sendiri dan juga untuk Efi, dia adalah salah satu plettonic Bandung yang hari itu juga akan pergi mengikuti acara meet and greet, harga tiket itu 26 ribu tapi aku harus membayar sebesar 54 ribu untuk mendapat dua tiket, mungkin yang 2 ribunya adalah uang retribusi peron. Setelah berhasil mendapat tiket aku segera bergegas menuju ke rumah nenek yang dekat dengan statsiun itu, saat itu gerimis mendera tubuhku….laper badan aku basah!!! Mana becek nggak naik ojek, becakpun tidak, di dalam perjalanan menuju ke rumah nenek aku menelepon teman ku yang lainnya yang juga hendak pergi bersama dia adalah Ep, no as nya nggak aktif, lalu aku menelepon no fren nya, baru nyambung, saat itu aku memberitakan jadwal keberangkatanku menuju jogja, solanya sebelumnya dia wanti2 agar memeberi tahu jadwal dan nama kereta yang aku pakai buat pergi ke Jogja. Setelah menelepon t’ Ep, giliran Efi yang ku telepon untuk memberitahu hal yang sama, dan akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di stat pada pukul 7 teng, setelah melewati beberapa blok di daerah babakan sari akhirnya nyampe juga di rumah nenek kuw,, eh ternyata beliauw baru aja belanja, aku langsung menyusul beliauw biar keteduhan di bawah payung nya. Asyiiikkk mayan agak aman, dan sampailah di rumah nenek, aki ku membukakan pintu, masuklah aku, mencium tangan beliauw dan permisi ke kamar mandi hendak melaksanakan kewajiban dalam kepercayaanku. Setelah beribadah aki mengajak ngubrul sementara nenek menyiapkan makan untuk ku. Setelah beberapa saat mengobrol, aku permisi untuk mandi, setelah mandi aku pakai kembali kemeja kotak2 merah bergambar kartoon itu(pas kuliah aku pake kemeja kotak2 itu, pe ke mojokerto juga masih aku pake, jadi intinya selama dua hari aku nggak ganti baju), karena belon bau-bau amat!! Hehe,,,kan tadi nggak keringetan, yang aku ganti Cuma roknya aja, aku ganti pakai celana jeans kesayanganku. Selesai mandi nenek menyuruhku makan, setelah makan azan maghrib berkumandang, aku pun beribadah, ibadah selanjutnya aku satukan.

@@@

Jam menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit, aku mengajak neneku untuk pergi saat itu juga, karena aku khawatir Efi sudah menungguku disana. Aku pergi ke statsiun naik becak bo!!! Cihuyyy….asyik kan?! Kami melewati jalan yang berbeda dengan yang aku lalui saat aku menuju rumah nenek, ternyata ada jalan yang lebih dekat cuy!! Sampe stat ternyata Efi belum datang, suasana nya lebih ramai dari pada saat aku beli tiket tadi sore, banyak calo yang menawarkan tiket illegal,,,eh tapi nggak tau ding. Untung nya tadi sore aku uda beli tiket. Kemudian aku menelepon Efi untuk mengetahui keberadaannya, efi mengatakan bahwa dia OTW. Yupy..berarti aku masih harus menunggu untuk bisa tahu dan mengenal wajah efi. Jam pun sudah menunjukkan pukul 7.15, nenek yang sedari tadi terlihat khawatir, terus menanyakan keberadaan efi, dengan tenang aku berkata “tenang nek, masih dijalan kok lagian keretanya belum dateng!

JOGJA INI JAWA TIMUR YANG ITU

Warnanya coklat keemasan, ukurannya tidak sebesar bis jumbo, tidak pula sekecil metromini. Pintunya ada dua. Jika berada di dalamnya seolah-olah kita adalah minuman yang siap diual bagi orang yang berdahaga. Terdiri dari enam banjar kursi double di belakang kursi supir, dan enam banjar kursi single, di bagian paling belakang terdapat lima buah kursi yang menjadi singgasanaku selama perjalanan pergi dari dan pulang ke Jogja. Jok kursinya berwarna hijau dengan motif garis abstrak biru dan oranye. Air conditioner berhembus di setiap penjuru kursi, tirai berwarna kuning kecoklatan menjuntai di sepanjang jendela bis tersebut. Pak sopir ditemani asistennya yang berperawakan kecil dan selalu memakai kemeja biru muda itu dari saat kita pergi sampai kita pulang (3hari).
Yiaahahahaha..aku merajai kerajaan belakang. Kekuasaanku dikursi belakang tak terbatas, aku bisa selonjoran, bisa terlentang, bisa terlungkup, pokoknya bisa, semau aku aja. Efi duduk di kursi double barisan paling belakang, hayu di kursi ke 5 single, t’ep di kursi ke 5 double (tapi jadi pindah duduknya bareng mbak rien), Mia di Kursi ke 4 single, dan mbak Rien di kursi belakang supir. Setelah dirasa lengkap bis pun mulai memutarkan roda-roda karetnya menuju Kota Surakarta. Menurut Hayu, masih ada yang harus di jemput di sana. Sepanjang perjalanan aku tidur, balas dendam saat dikereta. Saat terbangun bis sudah berhenti di seberang pasar Karta sura, seorang laki-laki berambut curly dan berjaket hitam naik sambil menggendong Ransel hitamnya (pemberitahuan: aku bawa ransel coklat, efi orange cerah, t’ep ransel hitam, mbak rien tas pakaian motif papilon, hayu ma mia standar, ransel item juga kalo nggak salah). Dia memilih kursi single paling belakang, tapi akhirnya kursinya Cuma dipakai buat naro jaketnya doang, orangnya duduk di kursi single paling depan. Menurut info yang kudapat dari hayu saat lelaki itu turun lagi entah kemana dan mencari apa, namanya Zaky, webname nya monYed. Setelah maz Zaky naik ke bus lagi, pak sopir mulai menginjak pedal gasnya. Kami pun menuju tempat pemberhentian selanjutnya, sebuah kompleks perumahan dimana sekar dkk tinggal. Yak penumpang berikutnya yang harus kami jemput adalah sekar dan kakaknya bintang, Tutut, dan siapa lagi yaaa, duh lupa nih (amnesiaku kambuh lagi!!) pokoknya semuanya 6 orang. Mereka membawa sejumlah perbekalan berupa satu kardus aqua dan satu kardus intip. Sebelum bis meninggalkan kompleks itu, ibu salah satu dari mereka menyampaikan sesuatu pada mas Zaky, setelah pembicaraan mereka selesai, mas zaky masuk bis, lalu bersama hayu menghitung jumlah penumpang, kemudian berangkatlah kami menuju tempat tujuan kami semua PPLH seloliman.
Sepanjang perjalanan aku tidur lagi, karena daerah kekuasaanku luas, aku tidur terlentang tentunya, disela-sela perjalanan teman-teman Solo sempat membagi-bagikan serabi kahs Solo, ih enak lo ternyata. Di Ngawi (kalo nggak salah inget tu juga) bis kami berhenti, “silahkan yang mau makan!!

Setelah makan malam selesai, kami dipersilahkan menuju asrama yang disediakan panitia. Sebuah gedung persegi empat yang sederhana, dengan desain bagian depan bergaya Jawa, atap gaya Thai. Pintunya bergaya arsitektur Jawa bali, dengan gagang pintu besi bulat beranting seperti anting pada hidung sapi, masuk kedalam kami disambut oleh lorong selebar 2 meter yang disepanjang dindingnya di tempel figura berisi peraturan asrama, serta anjuran menjaga lingkungan sekitar, di ujung lorong terdapat meja yang diisi deretan gelas kaca beserta panci berkran. Di ujung lorong tersebut terdapat dua pintu yang saling berhadapan di kiri dan kanan nya, jika kita menengadah ke atas akan terlihat deretan tempat tidur berkelambu, loker yang jumlahnya sesuai dengan jumlah tempat tidur yang ada di sana tak lupa pagar pembatas dari kayu. Kamar kami ada di sebelah kiri lorong begitu membuka pintu itu kita akan melihat lima buah pintu kamar mandi, saat aku masuk aku melihat ada tujuh pintu. Pikirku masa kita semua disuruh tidur di kamar mandi seh!! Sebab semua pintu yang terbuka adalah pintu kamar mandi, dan saat itu ruangan sangat gelap sebab menurut informasi yang kudengar, telah terjadi longsor tak jauh dari lokasi PPLH dan longsor itu menyebabkan air yang memutar turbin yang tenaganya dipakai untuk memasok listrik di PPLH dipenuhi lumpur, akibatnya turbinnya pun tak mau berputar karena terlalu berat oleh lumpur, dan otomatis listrik pun mati. Begitu mbak Fitri membuka pintu yang dua lagi dan menyorotkan senter kedalam barulah aku tahu ternyata dikedua sisa pintu itulah kami akan tidur. Ruangannya memang kecil, tapi arsiteknya sangat cerdas memanfaatkan space yang tersedia sehingga ruangan yang kecil menjadi efektif,mmmhh….patut ditiru, apalagi jika kita bercita-cita memiliki rumah yang kecil tapi meninginkan anak yang banyak. Di ruangan kecil itu terdapat dua pojok, pojok sebelah kanan berisi sederet kasur kapuk yang bisa ditempati oleh 6 orang, di pojok satunya hanya terdapat empat buah kasur, masing2 pojok terlindung oleh kelambu (menurutku gunanya agar debu dan nyamuk tidak mudah menyentuh kulit kita saat tidur. Aku, Efi, dan T’ Ep memilih pojok yang hanya berisi 4 kasur, sementara Mbak Rien,dan kelima orang rombongan dari Surabaya di pojok yang terdapat 6 kasur saat memilih-milih tempat untuk tidur, kami yang berada dalam satu rauangan saling berkenalan, tapi saat itu kami masih belum ngeuh. Sementara diruangan sebelah diisi oleh rombongan teman gadis Solo plus Mia. Karena Hayu panitia, dia tidak tidur di asrama. Sesuai kebiasaan, dimana aku mendapat tempat yang epos aku akan segera terlelap, dan benar saja kami bertiga langsung terlelap begitu merebahkan diri di kasur tersebut.
Sekitar pukul 22.00 aku dibangunkan oleh Niar, sontak aku kaget “ada apa?!

MEET AND GREET; BERTEMU DAN SALING MENYAPA

Jam menunjukkan pukul 08.00 saat semuanya berkumpul di aula lesehan, termasuk rombongan yang baru datang, Faryda dkk dari Malang, dan mba inggrid dkk dari Jakarta. Disana kami kembali melakukan perkenalan, terutama rombongan yang baru dating. Dari Malang ada Mila, Ani, Faris, dan Faryda; dari Jakarta ada mbak Inggrid, Dwi, Mbak Dian, Mbak Effi, dan Nuraini; satu lagi dari Surabaya Yulli. Ada juga Pak Topo apa pak Tomo ya?!, pokoknya katanya beliau itu direktur PPLH. Saat itu kami semua memakai kaos seragam yang di bagikan saat malam sebelumnya. Setelah perkenalan kami diingatkan kembali mengenai tanda-tanda printah; bunyi kentongan berarti kita harus berkumpul, bunyi gong berarti waktunya makan. Kemudian ada perkenalan para penghuni PPLH, saat mas Tonji2 mengenalkan diri, dia meminta kita berdiri dan memeragakan apa yang dia perintahkan, kita bermain tonji2, caranya saat mengatakan “tonji” kepalan tangan kanan meninju sikut kiri (tangan kirinya di bentuk sudut 90 derajat), lalu saat berkata “lala” tangan kita ditepukkan, saat berkata ” yim-yim” jari2 kita dikuncup2kan, saat berkata “letto” kepala kita digeleng2kan, terakhir kata “lala” lagi, gerakannya sama seperti sebelumnya begitu seterusnya kita di Setelah segala tetek bengek di umumkan, giliran pembagian kelompok. Kelompok dibagi berdasarkan warna pita ID card kami. Kelompok pun mulai terbentuk, masing-masing kelompok dibimbing oleh satu orang guide, mereka itu diantaranya adalah : mas joko, Mas Udin, Mbak Rosa, Mbak Yanti, Mbak Denok, sementara mas Tonji jadi danlap. Guide kelompok ku adalah mas Joko, anggota kelompokknya terdiri dari MAs zaKy, Ani, Ayu, Sekar, dan Aku. Kelompok lain aku nggak begitu ngerti. Setiap kelompok diajak berkeliling PPLH oleh guide nya. Oh ya, ada yang tertinggal setiap kelompok harus membuat nama kelompok masing-masing, syaratnya nama kelompok dibuat dengan dua kombinasi yaitu judul lagu letto dan nama tumbuhan. Nama kelompokku adalah My alamanda, bagus kan????(hyaahahaaha,,,kalo nggak anggota kelompoknya sendiri yang muji siapa lagi) ada juga yang namanya sebenarnya cembirit, dan lain sebagainya(yang laen aq nggak inget). Setelah berkeliling kami semua berkumpul di sebuah lapangangan rumput, saat tiba di sana ternyata kelompok kami yang paling akhir tiba, mungkin gara-gara kita sempat berhenti saat aku menceritakan kisah singa bersuara kambing (yang pernah baca buku pasti tau).
Lapangan rumput itu cukup besar, dan cukup bila dijadikan tempat bermain futsal, pokoknya sekelilingnya hijau, bukan karena bertembok yang di cat hijau tapi karena tembok alam yang terbuat dari deretan pohon dan semak belukar serta tanaman obat yang hidup disekitar situ. Danlap memberi perintah pada setiap kelompok untuk membuat slogan masing2 kelompok. Slogan kelompok kami adalah “Kosek mumul!


Teh sancang Panas, Kacang rebus, dan puluhan jagung telah disediakan. Badan yang menggigil terasa nyaman saat seisi perutnya disirami teh sancang. Teh sancang hangat, minuman berwarna merah jernih dengan aroma jahe dan sedikit rempah-rempah lain yang aku tidak tahu apa, dipadukan dengan kacang rebus begitu tepat menemani suasana santai kami malam itu. Ada juga dua keranjang besar jagung mentah dan tempat bakarnya, kudapan yang lain yang juga akan kami santap malam itu. Tak jauh dari tenda kudapan, alunan musik akustik dari tangan2 personel Letto mulai terdengar, dan vokalisnya pun mulai melantunkan lagu-lagunya. Malam itu hujan tak henti-hentinya turun. Tapi keadaan di malam itu tidak menyurutkan semangat kita untuk berkumpul saling bercengkrama, mempererat kedekatan diantara satu sama lain. Lagu demi lagu dilantunkan, beberapa diantaranya merupakan lagu permintaan para Plettonic agar dinyanyikan, ada beberapa lagu yang katanya sih mas Sabre lupa teksnya gara2 nggak pernah latihan. Ada juga lagu yang dinyanyikan oleh mbak Fitri, Brenda, dan Resty. Para juru ngelu juga tak kalah aksi, mereka juga mendendangkan salah satu lagu Letto. Dua hal yang paling seru adalah saat Aa Hiro menyanyikan lagu Ruang Rindu versi Jepun, serta lagu mix jepun Indonesia yang mereka buat (Aa Hiro, Mas Sabre, dll) saat sedang ngopi-ngopi. Ciamik juga lagunya.â€Â

NASIB KAMI BERTIGA (AKU, EFI, T’EP) DI KADIPIRO

Saat bus kami berbelok dari ringroad menuju kawasan Kadipiro waktu menunjukkan pukul 00.00. Akhirnya kami sampai di Jogja dengan selamat. Saat itu aku, Efi dan t’Ep masih bimbang, kemana kami harus melangkah, pintu mana yang harus kami ketuk untuk dimintai pertolongan. Namun kami ahirnya memutuskan untuk singgah terlebih dahulu ke Basecamp. Pintu pagar dibuka oleh orang yang sama ketika kami pertama kali datang ke tempat itu. Hayu bilang “mbak,kayanya sulit kalo harus ke rumah saya, kalaupun di Kadipiro paling-paling Cuma bisa begadangan. Sebelum kami sampai ke pendopo, kami meyempatkan diri untuk menanyakan tempat penginapan terdekat, pada bapak yang membukakan pagar, tapi dia bilang kalau penginapannya kayaknya penuh semua karena ini sedang libur panjang, bapak penjaga pintu pagar juga menganjurkan kami untuk menunggu pihak manajemen terlebih dahulu. Harapan kami pun surut, akhirnya kami berjalan dengan gontai ke arah pendopo. Sedikit terhibur hati kami saat memandang kindahan bulan penuh dengan hollo. Tiba di pendopo, seorang bapak yang selalu memakai sarung itu sedang menyapu lantai pendopo. Rajin banget bapak ini jam segini masih nyapu. Setelah mengucap salam kami pun menginjakkan kaki di lantai pendopo yang berkeramik hijau itu. Lantai nya bersih sebab baru saja disapu oleh si bapak.“Mbaknya mau pada tidur disini?”