Kamis, 12 Maret 2015

Cambuk Diri

Malam tadi, saya seperti tersadarkan. Saya baru mengerti bahwa Dia telah 100% mengambil tanggung jawab atas hidup saya di atas segala-galanya. Berkali-kali saya melakukan kesalahan terhadapnya selama empat tahun belakangan, dan baru malam tadi saya sadar, bahwa dia telah bersedia mempertaruhkan segenap kemampuannya dan seluruh hidupnya untuk selalu menjaga keamanan dan keselamatan hidup saya, dan kini bertambah satu yang dia ambil 100% tanggung jawabnya, yaitu anak kami. Dan mungkin beban tanggung jawabnya kelak akan bertambah ketika kami mempunyai anak yang lain.

Sudah seharusnya, saya menjaga kepercayaannya sepenuhnya, melaporkan segala apa yang saya kerjakan, apa yang saya rasakan kepada nya, melakukan segala tanggung jawab dan kewajiban saya sebagai seorang istri, memelihara rumah tangga, menjaga anak-anak kami, menjaga kehormatan keluarga kami, dan menjaga harta kami sebaik mungkin.

Seharusnya saya sadar sedari dulu, ketika dia memilih lelah sepulang kerja mengantarkan saya mengirimkan pesanan, ketika dia selalu melarang saya berjalan kaki terlalu jauh. itu semata-mata karena dia terlalu khawatir atas keselamatan hidup saya apabila saya melakukannya sendiri. Meski dulu saya senang berjalan kaki, tapi karena khawatir akan kesehatan dan keselamatan saya dia melarang saya untuk berjalan kaki terlalu jauh sekarang.

Ya, saya sudah terlalu sering mengabaikan setiap kekhawatirannya. Saya ingat beberapa kali saya membiarkan nya saya menggendong sendiri bayi kami di atas motor menuju kantornya, sementara saya memilih turun di tempat saya bekerja duluan, ketimbang mengantarkan mereka dulu. Itu betul betul kesalahan besar yang saya lakukan yang sepertinya selalu membuat dia kecewa akan sifat saya.

Entahlah saya pun kadang tak mengerti dengan diri saya yang terlalu khawatir akan pandangan orang lain, padahal orang lain itu pun tidak peduli akan keadaan saya, dan saya jadi mengabaikan perasaan keluarga sendiri karena lebih mendahulukan orang lain. Mungkin itu hal paling mendasar yang harus saya rubah dalam diri saya saat ini.

Kemudian saya teringat akan sebuah cerita dimana seorang pria tatkala ditanya tentang 10 orang paling penting di dalam hidupnya, dan satu persatu di eliminir sehingga tiba hanya satu yang ia pilih, yaitu istrinya, dengan alasan ketika nanti orang tuanya sudah meninggal, anak-anaknya sudah menikah, hanya istrilah yang akan menemani kita menghabiskan waktu sampai tutup usia. Mungkin itu juga yang akan saya lakukan karena hanya dia lah teman terdekat saya, dan saya akan menemani nya semampu saya hingga akhirnya maut kami masing-masing tiba.

Saya harus selalu berintrospeksi diri, saya harus berpikir meski itu akan menghabiskan waktu saya, agar saya tidak kembali mengulang kesalahan-kesalahan saya yang mungkin kelak akan membuat saya merasa menyesal.

Untuk dia yang telah berani mempertaruhkan hidupnya untuk mengambil tanggung jawab atas seluruh keselamatan dan kesejahteraan hidup saya, terima kasih selalu atas setiap pengorbanan dan perjuangan yang selalu kau lakukan, doakan saya agar saya pun bisa menghargai pengorbananmu dengan menjadi seseorang yang lebih baik lagi bagimu, dan keluarga kita, sehingga kelak tidak muncul penyesalanmu atas ku karena kau telah memutuskan untuk mengambil segala tanggung jawab itu.         

Maafkan saya selama ini, saya akan berusaha memenuhi janji yang kau minta malam itu, dan jangan pernah lelah dan berhenti untuk mengajari dan mengingatkan saya. Saya selalu menghormati dan menyayangimu sampai kapanpun.